Lihat juga
Hasil pergerakan hari ini menunjukkan bahwa risiko inflasi yang dipicu oleh krisis energi masih menekan harga emas, sehingga menetralkan efek positif dari meredanya inflasi konsumen di AS.
Sesi trading pada hari Rabu berlangsung dengan sinyal yang tidak konsisten. Pada hari Selasa, laporan Indeks Harga Konsumen (CPI) untuk bulan Juni menunjukkan adanya pelambatan inflasi tahunan menjadi 3,5% dari 4,2% di bulan Mei, sementara angka bulanan mengalami penurunan 0,4%, yang merupakan penurunan terbesar sejak April 2020. Informasi ini dianggap sebagai sinyal yang "dovish", yang menekan nilai dolar AS dan sempat memberikan dukungan bagi harga emas.
Namun, harapan tersebut mulai pudar pada pertengahan hari Rabu. Laporan Indeks Harga Produsen (PPI) juga menunjukkan hasil yang lebih rendah dari yang diperkirakan. Meski begitu, faktor-faktor geopolitik mengalahkan sentimen positif dari data makroekonomi. Meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran, penutupan Selat Hormuz, serta lonjakan harga minyak Brent di atas $84 per barel kembali menimbulkan kekhawatiran terkait inflasi yang berkepanjangan. Pasar mulai mempertimbangkan kemungkinan kenaikan suku bunga Federal Reserve untuk tahun ini, yang membatasi peluang kenaikan harga emas.
The Fed mempertahankan sikap hawkish. Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan komitmen bank sentral untuk mengembalikan inflasi ke target 2% dalam pidatonya di Kongres pada hari Selasa, dengan menyatakan bahwa ada "zero tolerance terhadap inflasi yang tinggi secara persisten." Presiden New York Fed John Williams juga menyebutkan bahwa kebijakan moneter saat ini berada pada posisi yang tepat untuk mencapai tujuan tersebut. Terlepas dari data inflasi yang lemah, pasar masih memperkirakan kemungkinan sekitar 60% adanya kenaikan suku bunga pada September.
Ketegangan geopolitik menjaga risiko inflasi tetap tinggi. Kembalinya konflik di Selat Hormuz dan ancaman pemblokiran jalur strategis lainnya (seperti Selat Bab-el-Mandeb) terus menopang harga minyak. Hal ini menciptakan risiko inflasi secara langsung, karena kenaikan biaya energi akan diteruskan ke harga konsumen.
Dari perspektif teknikal, XAU/USD mempertahankan sentimen bearish jangka pendek, dengan pergerakan harga yang terkonsolidasi di dalam kanal menurun pada grafik harian dan mingguan. Pada saat ulasan ini ditulis, harga berada di kisaran 4055,00–4060,00, yang merupakan zona support tempat harga berupaya menemukan pijakan setelah gagal menembus ke atas level 4100,00.
Pada grafik harian, harga tertahan cukup jauh di bawah EMA periode 50 (4275,00), EMA periode 144 (4400,00), dan EMA periode 200 (4320,00), yang menegaskan berlanjutnya tren bearish jangka menengah. Pengelompokan moving average jangka panjang ini di atas harga spot mengindikasikan bahwa upaya kenaikan saat ini masih terbatas.
Skenario yang paling mungkin adalah konsolidasi yang volatil di dalam rentang 4000,00–4100,00, dengan risiko penembusan ke bawah jika terjadi peningkatan ketegangan geopolitik dan kenaikan harga minyak.
Berkewaspadaan. Prioritas berada pada posisi jual jika terjadi penembusan ke bawah 4000,00. Posisi beli disarankan hanya jika harga terkonsolidasi di atas 4100,00 dan dikonfirmasi oleh faktor fundamental.
Emas menutup hari dalam kondisi tidak pasti, menyeimbangkan antara dorongan "dovish" dari data inflasi AS yang lemah dan tekanan "hawkish" dari risiko geopolitik serta dinamika harga minyak. Level kunci 4000,00 tetap menjadi batas utama bagi dinamika jangka pendek. Menjelang akhir pekan, pasar akan memantau secara saksama setiap sinyal baru dari Fed dan perkembangan di Timur Tengah, yang akan menentukan arah pergerakan emas selanjutnya.