empty
 
 
22.04.2026 09:44 AM
Pasar yang dipimpin oleh robot

Siapa peduli? Begitulah reaksi pasar saham terhadap gagalnya pembicaraan AS–Iran di Islamabad. S&P 500 ditutup di zona merah untuk hari kedua berturut-turut, tetapi hanya setelah sempat melonjak ke rekor tertinggi sebelumnya. Ini tidak tampak seperti sebuah bencana, bahkan dengan Selat Hormuz yang diblokir dan harga minyak mendekati $100/bbl. Faktanya, indeks acuan tersebut memutus korelasinya dengan Brent pada awal gencatan senjata dua minggu, yang sejak saat itu telah diperpanjang tanpa batas waktu oleh Presiden Trump.

Dinamika S&P 500 dan minyak

This image is no longer relevant

Mengapa S&P 500 begitu kebal terhadap gejolak geopolitik? Apakah pasar sudah lelah, atau justru yakin bahwa White House akan selalu melemparkan pelampung penyelamat ke aset berisiko apa pun yang terjadi? TACO trade — "Trump Always Chickens Out" — terus berjaya, dan FOMO masih sangat kuat. Pasar menjadi semakin bergantung pada algoritma pembelian berbasis momentum yang secara efektif menyaring berita, baik yang positif maupun negatif.

Contohnya, sebuah headline yang seharusnya bernada bullish — penjualan ritel AS yang meningkat menjadi 1,7% m/m pada bulan Maret, sebuah tanda kekuatan ekonomi — sebagian besar diabaikan. Sebaliknya, tuduhan Kevin Warsh bahwa kerangka kebijakan The Fed berkontribusi terhadap inflasi pada 2020–21 bisa saja ditafsirkan sebagai sinyal hawkish, namun pasar nyaris tidak bereaksi. Intinya: investor lebih peduli pada perpanjangan gencatan senjata.

Kinerja S&P 500

This image is no longer relevant

Dalam praktiknya, S&P 500 beroperasi dalam mode "bisa saja lebih buruk." Para trader khawatir penolakan Iran terhadap pembicaraan akan memicu serangan lanjutan dari AS. Itu tidak terjadi, sehingga pasar pun bersikap santai.

Apakah Selat Hormuz diblokir? Ya, tetapi jika kapal-kapal AS melonggarkan blokade, lalu lintas bisa kembali berjalan. Ya, Teheran mengenakan biaya transit, tetapi para investor memandangnya sebagai kompensasi bagi Iran atas kerusakan yang disebabkan oleh tindakan AS. Kedua belah pihak telah menanggung kerugian; pasar berasumsi kompromi pragmatis masih memungkinkan.

This image is no longer relevant

Kembalinya investor ritel yang kembali "buy the dip" di S&P 500, serta euforia seputar Magnificent Seven — yang menambah sekitar $2,5 triliun kapitalisasi pasar dalam waktu singkat — menjaga optimisme tetap bertahan. JP Morgan telah menaikkan target S&P 500 untuk akhir tahun menjadi 7.600 setelah sebelumnya menurunkannya ke 7.200 pada akhir Maret. Alasan utamanya: laba yang lebih kuat dari perusahaan-perusahaan yang terekspos AI.

Dari sisi teknikal, S&P 500 menunjukkan dua kali pergerakan pola inside bar pada grafik harian. Setelah uji palsu terhadap batas atas bar tersebut, para trader masuk dalam transaksi yang berhasil ketika harga menembus batas bawah di dekat 7.080. Penurunan di bawah level support 7.030 akan menjadi alasan yang kuat untuk menambah posisi short pada indeks acuan ini. Level resistance kunci berada di kisaran 7.100.

Recommended Stories

Tidak bisa bicara sekarang?
Tanyakan pertanyaan anda lewat chat.